Silvia. Aku mendengar ia menyebutkan namanya. Mudah-mudahan aku tidak salah dengar. Telingaku tertutup topi gunung untuk menghalau angin yang dingin. Dan aku tidak fokus pada apapun, hanya pada tubuhku yang menggigil. Aku sedang berada di pinggir kawah di atas gunung. Duduk meringkuk di antara cekungan tebing dan batu besar, dengan jaket gunung yang tidak tebal. Aku duduk dengan memeluk ranselku, yang ternyata bahannya menjadi dingin juga. Di hari yang gelap, menunggu pagi datang.

Asap belerang dari pipa-pipa yang menembus gunung kembali terbang mengarah padaku. Aku menahan napas. Menutup mataku rapat-rapat. Menutup mukaku dengan kedua tangan, pun rapat-rapat. Sudah tahu rasanya sebelumnya. Mataku pedihnya minta ampun, sampai berair. Tenggorokanku seperti ada benda yang dijejalkan hingga membuatku terbatuk-batuk.

Mendadak aku dapat mendengar seseorang di dekatku. Awalnya, aku mendengar dari langkah sepatunya. Dia batuk-batuk. Terdengar dari suaranya adalah seorang perempuan. Aku belum berani membuka kedua mataku. Kemungkinan asap belerang masih bergumul di tempatku. Tapi aku tidak tahan mendengarnya batuk-batuk. Tarikan napasnya juga bisa kudengar. Aku bisa berbicara tanpa bernapas, tapi aku harus melakukannya cepat-cepat. Baik aku akan melakukannya. Oh tidak. Tunggu. Aku tidak bisa melakukannya. Aku memang bisa bicara tanpa bernapas, namun setelah bicara aku harus mendapatkan udara untuk bernapas.

Maka aku merogoh saku di jaketku. Di sana aku menyimpan handuk kecil. Aku tuang handuk tersebut dengan sedikit air minumku. Lalu aku dekapkan handuk yang bagiannya basah ke hidungku. Aku merasa segar. Kini aku mendapat sedikit ruang untuk bernapas. Dengan masih menutup mata rapat-rapat, aku pun berbicara.

“Kau tidak apa-apa?” Lalu aku cepat-cepat mendekap hidungku kembali dengan handuk basah. Aku merasa begitu tidak beradab dengan berkata seperti itu. Setelah aku mengambil napas lagi cepat-cepat aku menambahkan, “Basahi kain dengan air minummu. Lalu pakailah untuk bernapas. Akan membuatmu jauh lebih enakan.”

“Benarkah?” Ah, dia dapat berbicara rupanya. Suaranya teredam dengan sesuatu yang mendekap mulutnya.

“Aku selalu memakai cara ini di sini. Seorang penambang memberitahuku.”

“Ah, sial.”

“Ada apa?”

“Botol minumku terjatuh.”

“Pakai punyaku.” Aku memberikan botol minumku padanya.

“Lalu bagaimana dengan dirimu?”

“Aku masih punya satu lagi di tasku.” Aku berbohong.

“Sungguh?”

“Pakailah.”

“Terima kasih. Kau baik sekali.”

“Jangan kuatir.”

“Bagaimana kau melakukannya?”

“Basahi saja handukmu hingga benar-benar basah. Itu saja.”

Aku mendengar cipratan air. Jumlah air dalam botolku kemungkinan sekarang tinggal sedikit. Seharusnya tadi aku meneguk sedikit terlebih dulu.

“Bagaimana?”

“Terasa segar. Lumayan, aku bisa bernapas.”

“Apa kau tidak menyewa masker?”

“Sudah. Tapi asapnya masih bisa masuk. Hidungku jadi berair. Seperti anak kecil yang ingusan.”

“Ah, begitu.”

“Jadi tadi ada penambang yang memberitahumu? Oh maaf, ini kukembalikan air minummu. Sekali lagi terima kasih, ya. Maaf juga aku menuangnya terlalu banyak.”

“Ambil saja. Itu buatmu.”

“Tidak usah. Kau pasti membutuhkannya.” Kurasa dia tahu kalau aku berbohong soal air minum di tas.

“Baiklah. Kalau kau butuh air bilang saja, ya. Tidak perlu sungkan.”

“Terima kasih.”

“Iya, penambang memberitahuku. Bukan tadi, tapi sudah lama sekali.”

“Sudah tidak ada asap. Ah, lega rasanya.”

Benar. Asap sudah berganti mengarah ke utara, menyeberangi danau, membumbung ke segala arah. Kemungkinan untuk berbalik lagi ke arah kami masih ada. Angin masih kencang, suaranya mendesing-desing kudengar. Aku benar-benar menggigil, bibirku bergerak-gerak sendiri, gigi-gigiku bergemelatuk jadinya. Tidak ada yang bisa kuperbuat. Aku meletakkan kedua tanganku ke bawah selangkanganku. Di sana tanganku merasa hangat.

Hari masih gelap. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan yang sedang bersamaku sekarang. Ia duduk di sebelahku. Posisinya lebih rendah daripada aku. Aku duduk pada sebuah batu, sedangkan dia terlihat nyaman duduk di permukaan tanah dengan kedua kaki ditekuk, tidak peduli apakah celananya kotor atau tidak.

“Iya. Benar-benar lega.” Wajahnya tidak terlihat begitu jelas. Hanya siluetnya saja. Apalagi ia juga memakai topi gunung sama sepertiku. Tudung jaketnya juga menutupi bagian samping wajahnya. Aku tidak berani memperhatikannya lama-lama untuk mencari tahu bagaimana wajahnya, nanti dikira kurang ajar. Tapi aku suka mendengar suaranya, tipe suaranya maksudku.

“Jam berapa kira-kira pagi akan datang? Masih lamakah?”

“Hmmm…” seperti kebiasaan orang-orang ketika gugup, aku melakukan apa yang tersimpan di dalam pikiranku ketika orang menanyakan jam. Aku tidak punya jam tangan. Dulu aku punya. Aku selalu memakainya kemanapun. Lalu jamku mati setalah lima tahun aku pakai. Sempat aku mengganti baterainya lalu hidup lagi. Dan aku lupa bahwa jam itu sudah tidak tahan air lagi, aku memakainya ketika mencuci tanganku. Lalu jam itu mati lagi. Sampai sekarang. Aku tidak berniat memakainya kembali. Maka aku simpan saja di lemari. Oleh karenanya aku mengambil ponselku untuk melihat jam. “Sebentar lagi. Sekarang sudah pukul empat. Pada bulan September dan Oktober seperti sekarang ini pagi akan datang sangat awal. Setengah lima sudah mulai padang.”

“Begitu yah.”

Aku menoleh ke arahnya. Bergumam mengiyakan.

“Teman-temanmu turun ke bawah?”

“Tidak. Aku tidak bersama teman kemari. Aku membawa dua orang turis dari Perancis. Mereka sedang turun ke bawah bersama seorang pemandu lokal yang aku sewa.”

“Oh jadi kamu seorang pemandu wisata?”

“Begitulah.” Aku tersenyum walaupun ia tidak dapat melihatku.

“Aku pikir kamu datang kemari beramai-ramai dengan temanmu seperti yang lainnya. Banyak juga ya anak muda yang datang kemari. Bersama teman-teman mereka. Seru. Aku melihatnya seru dan asyik.”

“Sejak dua tahun belakangan ini. Tempat ini tidak pernah sepi. Apalagi akhir pekan dan liburan. Jangan ditanya. Kamu sendiri mana rombonganmu?”

“Aku datang sendiri.”

“Serius?”

Dia tersenyum. Aku tidak melihatnya, tapi aku bisa merasakan dan mendengar hembusan napasnya.

“Bagaimana kau kemari?”

“Aku menyewa ojek di tempat aku menginap. Masih lama ya? Dingin banget nih.”

“Lalu bagaimana pulangmu nanti?”

“Dia menungguku.”

Sial. Aku membatin.

“Sebenarnya aku tidak tega. Pastinya dia kedinginan dan perlu tempat untuk tidur.”

“Jangan terlalu kuatir seperti itu. Dia sudah terbiasa.”

“Iya aku tahu itu. Katanya sudah tiga tahun atau empat tahun mengantar orang kemari. Tadi ia bilang padaku pas kami di jalan.”

Aku mengecek jam di ponselku. Sebentar lagi pagi datang.

“Jam berapa ya?”

“Pagi sebentar lagi.”

“Hmmm…” Dia berdiri dan membersihkan celananya. “Aku pergi sekarang aja deh kalau begitu.”

“Hmmm… Jadi kamu tidak menunggu pagi di sini?”

“Biar sambil jalan aja. Supaya keringetan. Hehehe…”

“Begitu ya.”

“Terima kasih banyak untuk ngobrolnya. Oh ya, untuk airnya juga.”

“Aku juga berterima kasih. Hmmm… untuk ngobrolnya.”

Meskipun kami berhadapan, aku hanya bisa melihat siluet tubuhnya. Oh Tuhan, jangan biarkan dia pergi begitu saja. Kenapa dadaku tiba-tiba terasa sesak?

“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Sukses deh.”

“O-OK. Jaga dirimu juga.”

Dan pagi pun datang. Dia pun menghilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s